Kamis, 25 Desember 2014

Indonesia merupakan salah satu negeri yang menyimpan banyak keindahan. Jumlah suku dan budayanya pun juga berlimpah dan membuat bangsa ini memiliki banyak bahasa daerah. Jumlah bahasa daerah di Indonesia saat ini mencapai kira kira 250 bahasa daerah dengan suku sebanyak 300 lebih yang mendiami wilayah Indonesia.

Salah satu bahasa daerah yang paling mendominasi di Indonesia adalah bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan bahasa jumlah penduduk bersuku Jawa berjumlah paling banyak di Indonesia dan juga tersebar di pulau-pulau lainnya bahkan diluar negeri seperti negara Suriname.

Bahasa Jawa ini pada umumnya banyak dipergunakan di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, serta Yogyakarta sebagai basis utama bahasa daerah masyarakat suku jawa.


Bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat Jawa dibedakan menjadi dua, yaitu:

1.       Bahasa Jawa NGOKO, digunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah akrab, orang yang memiliki umur hampir sama dengan kita (seumuran), dan  orang-orang yang memiliki status sosial rendah.

2.       Bahasa Jawa KROMO, berfungsi sebagai media komunikasi dengan orang-orang yang belum akrab dengan kita, juga untuk berkomunikasi dengan orang tua/ orang yang lebih tua dan orang orang yang memiliki status sosial lebih tinggi. Bahasa Jawa kromo ini sendiri dibagi menjadi dua yakni kromo madya dan kromo halus (atau biasa disebut "kromo inggil"). 

*Catatan: 
Kromo madya biasanya digunakan pada percakapan sehari-hari yang sifatnya lebih halus dibandingkan dengan bahasa ngoko, sedangkan kromo inggil digunakan pada saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau yang memiliki jabatan disertai status sosial yang lebih tinggi atau orang-orang yang dihormati dan disegani oleh masyarakat sekitar.  



Saat ini penggunaan bahasa Jawa menjadi kurang popular di kalangan anak-anak sekolah. Kurangnya buku penunjang, media untuk pembelajaran, serta kerumitan Bahasa Jawa itu sendiri menyebabkan Bahasa Jawa menjadi salah satu mata pelajaran yang kurang disukai oleh anak-anak. Di dalam Bahasa Jawa yang memiliki tingkatan yang rumit, terkandung sejarah tatanan masyarakat Jawa pada zaman dahulu, yang terdiri dari berbagai macam kasta dan golongan masyarakat. (Errington,1998,p.11).

Hasil penelitian Tim Jarlit Badan Perencanaan Daerah Propinsi DIY (2005 ) menunjukkan data bahwa pembelajaran Bahasa Jawa di SD dan SMP menunjukkan: (a) kurangnya variasi metode pembelajaran (b) media pembelajaran cukup memadai namun hanya berupa media tradisional seperti gambar dinding dan lain-lain. (Budisantoso, 2009,para 4).

Ketidakmampuan menggunakan Bahasa Jawa dengan baik ini menjadi salah satu faktor penyebab nilai-nilai tata krama saat ini sudah banyak yang ditinggalkan. Banyak generasi kita sekarang yang merasa “kuno” berbahasa Ibu dalam komunitasnya. Tetapi penyebabnya adalah ketidakmampuan menggunakan bahasa Jawa oleh generasi muda saat ini.

Menurut Mochtar, kurangnya minat generasi muda terhadap Bahasa Jawa disebabkan karena Bahasa Jawa dianggap tidak dapat digunakan untuk mencari kerja, sukar, bahkan ada yang menganggap Bahasa Jawa 3 sebagai bahasa wong desa, sehingga merasa malu untuk menggunakannya.


Bahasa yang dikenal anak-anak sekolah kebanyakan hanya logat ngoko (untuk percakapan sehari-hari ), bahkan ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Sebenarnya jika ditelusuri memang bukan kesalahan anak muda jaman sekarang. Tetapi para orang tua yang tidak membiasakan anak-anaknya untuk menggunakan Bahasa Krama Inggil. Keluarga muda Jawa yang pindah ke kota, dalam komunitas yang heterogen menjadi jarang sekali menggunakan Bahasa Ibunya. Sehingga penanaman nilai-nilai moral dari orang tua sangat jauh berkurang. Anak-anak lebih suka nonton TV atau bermain game, dibanding mendengarkan cerita sebelum tidur yang seperti para orang tua terdahulu dengan menyelipkan kata “ing sawijining dino….” .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar